Search
  • Admin Qualitiva

Merlep Ginting, pria buta huruf dari SumUt yang menantang GM Catur Belanda tahun 50-an



Merlep Ginting adalah orang asli dari tanah Karo, sebuah daerah yang terletak di Sumatra Utara. Pada pertengahan 50-an, nama Merlep seringkali disebut di rubrik olahraga media berbahasa Belanda yang berbasis di Sumatra, Het Nieuwsblad voor Sumatra.


Catur menjadi bagian hidup masyarakat Karo sejak dulu. Tridah Bangun dalam Manusia Batak Karo menyebutkan, laki-laki Karo sangat gandrung dengan permainan catur. Tidak hanya orang dewasa, karena ada masanya di mana anak-anak ketagihan bermain catur di mana saja bahkan hingga di warung-warung.


Merlep sendiri jago bermain catur, tetapi tidak bisa disamakan dengan jago-jago catur lainnya. Ia spesial, karena tidak dijejali teori atau mengikuti kursus-kursus tertentu. Bakatnya sepenuhnya dari alam lewat pengalamannya bermain di kampung-kampung Karo. Merlep tidak mendapuk dirinya jagoan catur agar lawan tidak takut ketika melawannya.


Merlep punya ciri khas sederhana, ia memakai pakaian adat bulang-bulang khas Karo. Ketika bermain ia kerap mengunyah sirih yang seolah menjadi energi pemberi konsentrasinya dalam memilih bidak yang harus dipindahkan.


Bertanding dengan GM Belanda

Pada 1956, Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) mengundang Lodewijk Prins seorang salah satu pecatur terbaik Belanda. Bersama dengan Max Euwe, nama Prins besar di dunia catur. Dalam seperempat abad (1939-1965) ia menyandang gelar master catur karena menjuarai sejumlah turnamen di negaranya.


Prins datang ke Indonesia didukung organisasi nirlaba Stichting Culturele Samenwerking (Yayasan Kerjasama Kebudayaan) yang menjadi penyandang biaya. Selama di Indonesia ia menghabiskan waktu dua setengah bulan mengelilingi Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Adapun Prins mengadakan pertandingan di sejumlah kota besar, yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Medan dan Pematang Siantar.


Tak hanya Merlep, Prins juga menjajal kemampuan Baris Hutagalung dan Arovah Bachtiar, pecatur Indonesia terbaik pada masanya. Namun, di antara ketiganya cuma Merlep yang mampu mengimbangi Prins dengan angka 1-1. Pertandingan catur antara Merlep dan Prins digelar di Gedung Bappenas (Gedung Loji), Menteng, Jakarta, pada 24 Februari 1956.


''(Merlep) tidak diberi teori apa pun. Selain itu, ia tidak bisa membaca atau menulis. Namun, ia berhasil memenangkan salah satu dari dua permainan,'' tulis sejumlah koran Belanda salah satunya IJmuisde Courant pada 17 Maret 1956.



Menurut kabar, Prins terkejut dengan permainan Merlep. Saat itu ia mengaku akan mengabadikan pengalaman bermain dengan Merlep dan pecatur Indonesia yang lain ke dalam sebuah buku sekembalinya ke Belanda.

Sekolah Anda sedang mencari aplikasi sekolah online & ujian online? Daftarkan sekolah Anda sekarang melalui link dibawah ini, dan nikmati akses akun sekolah premium selama 30 hari

KLIK https://qtva.id/page/register/new


73 views0 comments